Friday, November 17, 2017

Ritual ‘Mayat Berjalan’ di Tana Toraja yang Bikin Kamu Merinding

Kehidupan manusia memang sudah sejak awal banyak menyimpan misteri, mulai dari proses awal dari sperma sampai ke perwujudan berbentuk bayi. Hal tersebut pula yang membuat kita tak dapat terlepas dari banyaknya fenomena misteri yang terjadi disekitar kita. Anda tentunya sudah akrab dengan banyaknya fenomena hantu, tapi bagaimana dengan fenomena mayat berjalan? Mungkin mayat berjalan hanya Anda lihat melalui layar kaca. Tapi ternyata mayat berjalan atau yang mungkin lebih akrab di sapa zombie juga terjadi di kehidupan nyata. Benarkah?

Misteri Mayat Berjalan Toraja


Indonesia salah satu negara maritime yang diapit oleh perairan luas. Pulau-pula yang tersebar dari sabang sampai merauke membuat Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beragam. Bahkan hampir setiap kebudayaan memiliki kepercayaan yang berbau mistis, seperti budaya yang di anut oleh masyarakat Toraja di Sulawesi Selatan. Tanah Toraja adalah salah satu dari sekian banyak daerah di tanah air yang memiliki banyak kisah mistis salah satunya adalah mayat berjalan. Selain dikenal dengan kerajinan seni dan juga pemandangan indahnya Toraja yang terletak di bagian timur, Sulawesi Selatan juga memiliki sebuah ritual mengerikan. Ritual tersebut lebih dikenal dengan istilah ‘Ma’nene’. Ritual ma’nene adalah ritual untuk menghormati para leluruh dengan menghidupkan kembali mayat yang telah di kubur.
Sejarah Tradisi Ma’Nene
Tradisi ma’nene sudah terjadi sejak jaman dahulu kala, bahkan tradisi tersebut sudah di mulai jauh sebelum Indonesia merdeka. Kisah mayat berjalan tersebut bermula kala seorang pemburu muda yang dikenal dengan nama Pong Rumasek menemukan satu sosok mayat di tengah hutan yang terletak di sekiatr pegunungan Balla. Merasa kasihan karena mayat tersebut tidak terurus dan di biarkan tergeletak begitu saja, Pong Rumasek pun konon akhirnya menghentikan perburuannya untuk merawat mayat tersebut dengan membungkus mayat menggunakan bajunya. Anehnya setelah merawat mayat tersebut Pong Rumasek dikabarkan langsung mudah mendapat binatang buruan. Bahkan sesampainya di rumah semua lading pertaniannya pun langsung tumbuh subur, hasil pertaniannya juga langsung berlimpah. Sejak saat itu setiap kali berburu di hutan Rumasek pun selalu mengunjungi mayat tersebut, bahkan kabarnya Rumasek dengan ilmunya ia juga mengajak mayat tersebut untuk ikut berburu dengannya. Berawal dari situ kisahnya pun terus berkembang hingga sekarang dan menjadi sebuah kepercayaan yang sangat melekat di masyarakat Tana Toraja, mereka percaya jika arwah leluhur mereka tidak akan meninggalkan keluarganya seperti keyakinan yang terus di turunkan pada generasi Pong Rumasek. Arwah tersebut dipercaya akan terus hidup untuk membantu keluarganya.

Fenonema Mayat yang Berjalan
Jika ritual tersebut adalah ritual untuk menghormati para leluhur termasuk Pong Rumasek, yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana bisa mayat dihidupkan kembali, kebayangkan seperti apa?. Bahkan tak hanya bangun dari tidur tapi juga di suruh berjalan sampai di rumahnya. Dari penelusuran, prosesi pembangkitan mayat orang yang telah meninggal tidak mudah dilakukan, hanya orang-orang tertentu yang memiliki ilmu tertentu yang bisa membangkitkan mayat dan memerintahkannya untuk berjalan. Hal tersebut juga tidak terlepas dari tradisi ma’nene atau yang mungkin lebih mudah disebut sebagai tradisi untuk mengganti pakaian jenazah sebagai bentuk penghormatan.

Fenomena mayat berjalan yang hanya satu-satunya terdapat di Toraja ini memang terbilang sangat mengerikan. Bahkan kabarnya seiring dengan berkembangnya waktu ilmu untuk menghidupkan mayat juga tak hanya di gunakan untuk ritual ma’nene. Tapi juga mulai di pakai untuk menggiring mayat agar bisa berjalan sendiri menuju pemakamannya, begitu pula jika ada salah seorang sanak keluarga yang merasa rindu dengan mendiang maka mayat yang di rindukan akan di datangkan ke rumah dengan cara berjalan. Namun sesampainya di rumah mayat tersebut tetap akan di tidurkan di kamar yang telah di siapkan khusus.
Menurut salah seorang masyarakat setempat tradisi menghidupkan mayat untuk berjalan sendiri juga tak lepas dari doa-doa yang di panjatkan kepada para leluhur, namun bagi masyarakat perkotaan ritual menghidupkan mayat sudah mulai jarang di gunakan. Tapi di daerah-daerah pelosok masih sering melakukan ritual ma’nene.

Fenomena mayat berjalan Toraja saat ini sudah tersebar hingga ke berbagai pelosok penjuru dunia. Bahkan ritual yang diadakan setiap bulan Agustus setiap tahunnya ini sudah menjadi sebuah bagian pariwisata.